Selasa, 09 Desember 2008

Have you ever really loved a woman

Have you ever really loved a woman

To really love a woman,
To understand her - You gotta know her deep inside,
Hear every thought - See every dream,
And give her wings when she wants to fly,
Then when you find yourself lyin' helpless in her arms,
You know ya really love a woman.

When you love a woman,
You tell her that she's really wanted,
When you love a woman you tell her that she's the one,
'Cause she needs somebody,
To tell her that it's gonna last forever,
So tell me have you ever really,
Really, really ever loved a woman?

To really love a woman - Let her hold you,
'Til ya know how she needs to be touched,
You've gotta breathe her - really taste her,
'Til you can feel her in your blood,
And when you can see your unborn children in her eyes,
You know you really love a woman.

When you love a woman,
You tell her that she's really wanted,
When you love a woman you tell her that she's the one,
'Cause she needs somebody,
To tell her that you'll always be together,
So tell me have you ever really,
Really, really ever loved a woman?

Oh - You got to give her some faith - Hold her tight,
A little tenderness - Ya gotta treat her right,
She will be there for you, takin' good care of you,
You really gotta love your woman.

Then when you find yourself lyin' helpless in her arms,
Ya know you really love a woman.

When you love a woman,
You tell her that she's really wanted,
When you love a woman you tell her that she's the one,
'Cause she needs somebody,
To tell her that it's gonna last forever,
So tell me have you ever really,
Really, really ever loved a woman?

Yeah - Just tell me have you ever really,
Really, really ever loved a woman?
Oh-Just tell me have you ever really,
Really, really ever loved a woman?

Senin, 08 Desember 2008

menumbuhkan kepercayaan


Menyalahkan kekurangan dari sifat-sifat Anda, tidak mengurangi sifat dari kekurangan-kekurangan Anda. Jadilah pribadi yang menghormati diri Anda sendiri. Jangan pernah merendahkan diri sendiri dengan mengeluhkan kekurangan dari sifat-sifat Anda, terutama bila keluhan itu Anda gunakan untuk meminta pengertian orang lain mengenai kelemahan Anda dalam mencapai kualitas kerja dan hasil yang baik. Itu hanya akan membuat Anda kedengaran sebagai seorang yang tidak memiliki rencana untuk memperbaiki diri. Itu adalah sikap orang-orang yang lemah. Bila keinginan untuk mengeluhkan kekurangan diri sendiri itu datang, ubahlah dengan ungkapan kesungguhan untuk memperbaiki hasil kerja Anda pada kesempatan berikutnya. Itulah cara menyikapi kekurangan pada sifat-sifat kita. Tidak mengeluhkannya …, tetapi berjanji dengan sungguh-sungguh kepada diri sendiri untuk bersikap dan berlaku lebih baik lagi sesegera mungkin. Untuk menjadi apa pun, kita membutuhkan kesungguhan untuk menjadi. Keinginan Untuk menjadi - tidak selalu diikuti oleh rencana untuk menjadi; dan rencana untuk menjadi – jarang sekali diikuti oleh tindakan untuk betul-betul menjadi. Mohon Anda perhatikan, semuanya membutuhkan kesungguhan, memang; tetapi pada banyak pribadi – kesungguhan itu dibentuk dari asap yang mudah berubah bentuk dan menghilang, dan akan muncul lagi – mungkin dengan bentuk yang baru, tetapi dengan cara menghilang yang sama. Itu sebabnya, bukan hanya kesungguhan dan bukan hanya sembarang kesungguhan – yang menjadi biaya utama yang harus kita bayar untuk mencapai impian-impian kita; tetapi kesungguhan untuk menjadi pribadi yang kualitasnya memungkinkan pencapaian impian-impian kita.

Jumat, 05 Desember 2008

KEBOHONGAN-KEBOHONGAN IBU

Cerita ini mengingatkan aku tentang ibuku tersayang yg sudah pergi meninggalkanku, aku kirim email ini hanya untuk temen2 supaya bisa mengingat betapa begitu besar pengorbanannya untuk anak2nya. walau sering kali kita kurang ajar...



Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : "Makanlah nak, aku tidak lapar" ----------KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA

Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : "Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA

Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : "Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja." Ibu tersenyum dan berkata : "Cepatlah tidur nak, aku tidak penat" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA

Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : "Minumlah nak, aku tidak haus!" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT

Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA

Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : "Saya ada duit" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM

Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : "Aku tak biasa tinggal negara orang" ----------KEBOHONGA N IBU YANG KE TUJUH

Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : "Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ----------KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.

Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : "Terima kasih ibu..!" Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi... Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata "MENYESAL" di kemudian hari.

Kamis, 04 Desember 2008

laskar nanana....???

Assalaamu'alaikum....
salam sejahtera untuk kita semua....
blog ini aku persembahkan untuk malaikat-malaikat kecilku...
mereka adalah pelita jiwa kami...
NAZHIF, NAJMA, NADZIR...
Belahan jiwa... pelipur lara... penghapus luka... penghibur duka...
tumbuhlah kalian sebagai pelopor anak zaman...
biarkan getar berkembang... siangi benih kehidupan... cinta kami akan menuntun...